#Cerpen : Dua Pekan

by - 6:00 AM




Tidak pernah ada janji yang terucap diantara kami. Sebuah perayaan tahunan mempertemukan kami yang hampir dua pekan tidak saling bertegur-sapa karena jarak. Ya, dua pekan terakhir ini dia dalam perjalanan tugas dari organisasinya ke daerah terpencil. Selama dua pekan pula dia menghilang tanpa kabar, menyisihkan ruang rindu di bagian hati terdalam.

Sebuah keajaiban melihatnya berdiri dihadapanku dan tersenyum hangat, setelah dua pekan lamanya. Tidak banyak yang berubah darinya, selain kulitnya yang semakin eksotis karena sengatan matahari. Selebihnya dia adalah orang yang sama, yang aku kenal sebelumnya.

“Oh, Hai!” sapaku secara spontan begitu mendekat ke tempatnya. Sebenarnya dari jarak terjauh aku tahu, orang itu adalah dia. Insting yang hadir secara tiba-tiba, padahal penglihatanku tidak cukup baik dari jarak jauh.

“Hai!” balasnya sambil mengulurkan tangan layaknya dua Presiden yang berjabat tangan.
Aku banyak bertanya tentang kabarnya. Begitupun dia, banyak bercerita tentang pengalamannya selama dua pekan dengan antusias. 

“Kamu harus liat videonya. Saya buat semacam reportase sama anak-anak…” sarannya ketika aku bertanya banyak hal tentang tempat yang dia kunjungi dua pekan lalu.

“Oh ya? Bukannya ga boleh direkam?” tanyaku lagi sambil mengimbangi langkahnya sepanjang perjalanan.

“Hidden camera” bisiknya, kemudian dia melanjutkan, “Ah, saya juga bawa oleh-oleh buat kamu,”

“Wah?! Sini …” pintaku menelungkupkan kedua tangan dihadapannya.

“Ga dibawalah … Coba kalau bilang mau kesini, pasti saya bawa …” jawabnya enteng.

“Aaah, kamu baik sekali. Makasih yaa …” ujarku sumringah. Bahagia karena dalam perjalanannya dia masih mengingatku. Benar-benar membuat bahagia.

Selama perayaan itu, kami menjelma menjadi sepasang kekasih. Ya, kekasih. Jantungku sampai berdegup tak karuan selama bersamanya. Dia menggandeng tanganku, layaknya seseorang yang tidak ingin terpisah. Dan sesekali merangkulku seolah ingin melindungi dari segala macam ancaman. Malam itu menjadi malam paling romantis yang pernah kami lewati.

“Terima kasih untuk malam ini, sangat berkesan,” ujarku mengiringi kepulangan kami. Perayaan masih berlangsung, namun kami memutuskan untuk mengakhiri malam ini lebih awal.

“Saya juga, senang bisa menemani kamu,” jawabnya tanpa memandang maupun melirik ke arahku sedikit pun.

Aku menanggapi dengan senyuman. Sejujurnya ucapan terima kasih nyaris tidak sebanding dengan apa yang telah kami lewati malam ini. Tidak ada padanan kata yang bisa mewakili betapa aku sangat bahagia berada di dekatnya. 

“Lain kali mau kan jalan bareng saya lagi?” tanyanya, mencari jawaban tanpa ingin menatapku.

“Dengan senang hati,” jawabku berdiri dihadapannya dan menatap dua bola mata yang telah terpaut menitipkan semacam koneksi dalam hati.

Langit malam ikut berdendang, mengiringi perjalanan kami yang penuh letupan. Aah, bukankah ini sangat membahagiakan? 

***

P. S : Cerpen ini terhimpun dalam kumpulan cerpen Diorama yang tayang setiap seminggu sekali di akun Wattpad saya @aginpoespaJika ingin menikmati lebih lengkap, silakan mampir ke link ini, ya... (langsung aja klik kata "ini") 

Happy reading ! :)

You May Also Like

0 komentar

©