#GameLevel1 : Menyampaikan Rasa Empati dengan Komunikasi Produktif (Day 7-Bunsay Pranikah Batch #3)

by - 7:04 AM

Materi tentang Komunikasi Produktif dari kelas Bunsay bikin saya kembali membuka buku-buku semasa kuliah yang sejak tiga tahun terakhir ini hanya berjejer dalem rak buku, hehehe. Oke, seperti kali ini saya kembali membuka buku Psikologi Komunikasi-nya Jalaluddin Rakhmat.

Pembahasan dalam buku Psikologi Komunikasi ini sejalan dengan apa yang saya praktikkan pagi ini kepada Adik saya. Dalam sistem komunikasi interpersonal, salah satu faktor yang mempengaruhi sebuah hubungan interpersonal adalah sikap saling percaya antara komunikator dan komunikan. Jalaluddin menyebutkan bahwa sikap saling percaya berasal dari sikap menerima, empati dan kejujuran.

Nah, khusus untuk pembahasan kali ini saya hanya akan membahas bagian Empati-nya. Karena pada bagian inilah saya mempraktikkan komunikasi produktif pada adik saya. Setidaknya para ahli ini mendefinisikan Empati dalam beberapa hal, yaitu :

  1. Freud  menyebutkan bahwa Empati adalah faktor kedua yang menumbuhkan sikap percaya pada diri orang lain. empati telah didefinisikan bermacam-macam. Empati dianggap sebagai memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita. 
  2. Scotland et al, Empati sebagai keadaan ketika pengamat bereaksi secara emosional karena ia menanggapi orang lain mengalami atau siap mengalami suatu emosi.
  3. Bennet, Empati sebagai imaginative intellectual and emotional participation in another person’s experience. 

Kalau ada yang masih belum paham tentang Empati ini, Jalaluddin menjelaskan secara lebih detil bahwa dalam empati kita menempatkan diri kita pada posisi orang lain, kita ikut serta secara emosional dan intelektual dalam pengalaman orang lain. Berempati artinya membayangkan diri kita pada kejadian yang menimpa orang lain. Dengan empati, kita berusaha melihat seperti orang lain melihat, dan merasakannya.

Empathy Map. Sumber : pinterest.com
So, I’m here....

‘Here’, di mana, sih? Jadi pagi ini saya nganter adik yang sedang sakit ke klinik. Awalnya, sih, saya nggak niat sampai mau nganterin, ya. Tapi berhubung kemarinnya Mama atau Papa saya punya agenda masing-masing dan bilang nggak bisa nganter ke Klinik... Akhirnya adik saya bilang mau pergi sendiri aja.

“Ade pergi sendiri aja, Ma,” kata Adik saya setelah mendengar kalau Mama atau Papa nggak bisa nganterin.

Saya yang sejak tadi ngedengerin percakapan Mama dan Adik dari kamar langsung aja keluar dan dengan mantap bilang biar saya aja yang nganter, padahal sebelumnya saya nggak kepikiran saya sekali, sih. Semacam reaksi spontan gitu, Hahaha.

“Nanti sama Teteh aja ke kliniknya,” ujar saya singkat terus ngeloyor lagi ke kamar.

Adik saya lagi diperiksa dr. Mujiono
Paginya, saya dan Adik datenglah ke Klinik. Hampir satu jam kami nunggu dipanggil dokter. Hari itu pasiennya banyak banget mulai dari anak-anak sampai orang tua ada. Momen ketemu dokter akhirnya tiba, namanya dr.Mujiono—dokter ini cukup terkenal di daerah saya dan punya banyak pasien.

“Jadi, adik saya ini kenapa ya, Dok?” tanya saya, begitu dokter selesai periksa Adik di tempat tidur pasien.

“Si Mas ini kena #%$$%$,” jawab dokternya. Btw, itu bukan di sensor yaa... saya lupa nama ilmiah penyakitnya saat dokter menyebutkan. Hahaha.

“Itu penyakit apa, Dok?” tanya saya lagi.

“Sistem pencernaannya terganggu akibat makan makanan yang nggak sehat. Makanya si Mas ini mencret-mencret. Dari mencret-mencret itu akhirnya ada perubahan bakteri baik di dalam sistem pencernaan,” jelas dr. Mujiono, kemudian kami ngobrol-ngobrol sebelum akhirnya pamit untuk ambil obat.

Nunggu resep obatnya diambil
“Pilih makanan yang bener, Dek. Apalagi kalau makan di luar gitu,” kata saya sesaat sebelum mengambil obat. Mencoba menerapkan komunikasi produktif kaidah 2C.

“Perasaan nggak makan yang aneh-aneh, sih,” jawabnya.

Selain menerapkan pola komunikasi produktif, hari ini saya pun belajar tentang cara berempati. Menempatkan saya pada posisinya Adik saya. Saat adik saya merasa sakit, saya mencoba berempati kepadanya dan apa yang saya inginkan saat saya sakit seperti Adik saya.

Jadi itulah mengapa akhirnya saya mau nganter Adik saya ke klinik dan mau repot-repot beli obat di Apotik lain (soalnya di apotik klinik, obatnya nggak ada). Begitu pulang ke rumah, perasaan saya lega banget udah bisa bantu Adik saya. Semoga Adik saya segera pulih kembali.




#hari7 #gamelevel1 #tantangan10 hari
#komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip



 Bandung, 061117

Sumber bacaan :
Materi 1 Komunikasi Produktif-Kelas Bunda Sayang Batch #3
Psikologi Komunikasi, Jalaluddin Rakhmat

You May Also Like

0 komentar

©