Yuk, Kita Berkegiatan Read Aloud Bersama Anak !

by - 10:06 AM


Pernah dengar dengan kosa kata Read Aloud? Atau masih merasa asing dengan kosa kata ini? Yuk, kita cari tahu lebih banyak tentang aktivitas read aloud yang punya peranan penting dalam menstimulus kecerdasan anak !
Betapa perjalanan menjadi sepasang orangtua memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak hal yang harus dilakukan orangtua agar dapat memberikan stimulus terbaik bagi perkembangan kecerdasan anak. Apa, sih, hal paling urgent yang harus dibekali oleh seorang anak saat terlahir ke dunia ini? Saya yakin, kita sudah mampu menderetkan hal-hal penting yang ingin segera ditularkan kepada anak.

Lagian, orangtua mana sih yang nggak mau anaknya cerdas? Salah satu kecerdasan yang sangat dibutuhkan anak di masa depan adalah kecerdasan literasi. Yap, lewat workshop ini saya semakin menyadari bahwa betapa pentingnya peranan orangtua untuk merangsang literasi anak sejak dini. Eh, literasi sejak dini? Sejak dini, sejak bayi gitu maksudnya? Gimana caranya?

Bu Roosie saat praktik membacakan nyaring untuk seluruh peserta

Read Aloud : Aktivitas Sederhana Pemicu Kecerdasan Literasi Anak

Pernah dengar tentang konsep 1000 hari pertama seorang anak? Iya, 1000 hari pertama yang tidak akan mampu terulang kembali dan fase yang begitu penting bagi seorang anak, yaitu 40 minggu dalam kandungan dan 24 bulan setelah lahir ke dunia. Eh, apa pentingnya?

Penting banget. Dalam buku Membacakan Nyaring karya Bu Roosie Setiawan---yang dibahas juga dalam workshop kali ini, pada 1000 hari pertama serabut-serabut yang ada di dalam otak anak belum saling terhubung. Seluruh serabut ini akan semakin cepat terhubung saat anak mendapatkan stimulus yang tepat.

Peserta workshop sedang menikmati materi dari Bu Roosie
Salah satu aktivitas yang mampu menstimulusnya adalah kegiatan read aloud atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kegiatan membacakan nyaring. Membaca nyaring dan membaca biasa apa bedanya? Beda dong, membacakan nyaring artinya orangtua membacakan buku atau sumber bacaan dengan suara yang nyaring (keluar suaranya bukan baca dalam hati), Ibu dan Ayah bukan hanya membaca untuk dirinya sendiri namun untuk anak yang bahkan masih dalam kandung.

Kenapa harus read aloud? Bu Roosie menyampaikan perkataan Jim Trealease dalam bukunya The Read Aloud Handbook seperti ini : "Jika seorang anak tidak pernah mendengar kata, anak tidak akan pernah mengucapkan kata, dan jika tidak pernah mendengar kata, anak tidak pula bisa mengatakan, akan sulit membaca dan menulis kata."

Sama aja seperti kita pengen bisa cas-cis-cus ngomong Inggris tapi tidak pernah atau jarang mendengar kosa kata bahasa Inggris, secara otomatis kita tidak bisa atau kesulitan mengucapkan, membaca bahkan menulisnya. Begitupun yang terjadi pada anak-anak kita jika tidak pernah mendengarkan suara orangtuanya yang sedang membaca, anak cenderung kesulitan untuk berbicara nantinya.

Posisi Membacakan Nyaring

Gimana Cara Read Aloud alias Membacakan Nyaring Kepada Anak?

Bu Roosie Setiawan menyadari hal ini saat ia menemukan anaknya di usia 3 tahunan sudah bisa membaca. Padahal bu Roosie tidak pernah sekalipun mengajari mereka tentang alfabet atau cara membaca. Setelah beliau membaca bukunya Jim Trelease yang berjudul The Read-Aloud Handbook, barulah bu Roosie tahu bahwa ini adalah salah satu bonus dari sekian banyak manfaat kegiatan Read Aloud (Membacakan Nyaring) sejak dini.

Sebelum berkegiatan read aloud ada hal penting yang wajib dipahami oleh orangtua, yaitu kenali tahapan membaca anak. Idealnya, anak-anak harus mengalami tujuh tahapan membaca ini, yaitu :
  1. Pramembaca
  2. Membaca Dini
  3. Membaca Awal
  4. Membaca Lancar
  5. Membaca Lanjut
  6. Membaca Mahir
  7. Membaca Kritis
Salah satu peserta yang berhasil menaklukkan tantangan dari bu Roosie
Weleeh, ternyata ada sebegini banyak, ya, yang dilalui anak-anak sampai ia bisa memahami sebuah bacaan. Beda lho, ya, anak yang bisa baca belum tentu paham bacaannya tapi anak yang paham bacaannya pasti bisa baca. Hal ini disinggung juga sejak awal oleh Teh Desi---Ketua RB Literasi Ibu Profesional Bandung tentang fenomena anak-anak SD zaman sekarang yang kebanyakan hanya bisa baca tanpa memahami bacaannya.

Oke, usia 0-24 bulan berada dalam tahapan pramembaca. Pada tahap pramembaca ini Bu Roosie mengerucutkan lagi tahapannya mulai dari Tahap Mendengar (0-2 bl), Tahap Menyimak  (2-4 bln), Tahap Bergumam (4-6 bln), Tahap Berceloteh (6-12 bln), Tahap Menyebut Kata (12-18 bl), Tahap Mengucapkan Kalimat (18-24 bl).

Kok, ya, ribet banget, ya, sampai banyak banget tahapannya. Big No! Ini nggak ribet lho, yang bikin ribut cuma pikiran orangtua aja. Serius, Bu Roosie bilang gitu. Dengan mengetahui tahapan membaca ini, orangtua tentu bisa lebih tepat sasaran saat menstimulus anak-anaknya. Selain itu, jenis buku bacaan, posisi saat membacakan nyaring, sampai hal-hal yang bisa dilakukan setelah kegiatan read aloud ini dibahas pula. *I mean, lebih lengkapnya tentang ini ada di bukunya Bu Roosie :)

Bukunya Bu Roosie Setiawan

Ada Nggak Kriteria Buku Yang Cocok Untuk Read Aloud?

Oh, pasti ada dong ! Saat workshop berlangsung, Bu Roosie menunjukkan kepada para peserta buku-buku anak yang cocok sesuai tahapan usianya. Bahkan saking banyaknya bawa buku cerita, Bu Roosie pun berbaik hati bagi-bagiin buku cerita anak ke beberapa peserta yang berhasil menaklukkan tantangannya. 

Tantangannya cukup sederhana, peserta diminta untuk membacakan nyaring buku cerita yang dipegangnya kepada peserta workshop yang anak di sana. Akhirnya, saya juga kebagian bukunya nih. Udah gitu, saat sesi membacakan nyaring ini anak-anak yang ada di sana yang tadinya lari ke sana sini tetiba duduk manis dan menyimak dengan baik. Aaakkkkk, senang sekali!

Buku cerita dari Bu Roosie karena berhasil menaklukan tantangan
Oh, iya... Ada cara read aloud yang saya pelajari dari workshop kemarin, yaitu :
  • Cari posisi ternyaman untuk Ibu dan bayi, boleh sambil duduk, tiduran, tengkuran, dipangku atau bermain-main.
  • Ambil buku cerita, baca judul dan penulisnya. Kemudian tunjukan ada gambar apa saja di cover depannya.
  • Mulailah membacakan cerita dengan suara, intonasi, dan ekspresi yang sesuai dalam ceritanya. Kemudian terangkan pula beberapa benda yang ada di halaman bergambarnya.
Saat bayi masih dalam kandungan, Ibu bisa membaca buku apa pun yang sedang disukainya. Misalnya, membaca buku-buku tentang kehamilan atau Ayahnya pagi-pagi sebelum ngantor biasanya baca koran. Nah, bacaan apa pun yang sedang dibaca orangtuanya bisa dibacakan nyaring kepada anak. Sehingga anak tahu dan mengenali suara orangtuanya sejak dalam kandung, dan manfaat lainnya anak banyak mendengar kosa kata sebagai bekal untuk tahap berbicara. Woah, Allah memang super keren ih!

Eeerr, tapi ternyata, ya... Kriteria buku buat bayi, batita, balita, dan usia SD itu beda lho! Bahkan nih, ya, saya pun baru tahu kalau ada buku hardbook---yang diperuntukkan bagi bayi tapi isinya (jumlah kata, kalimat, dan paragrafnya) untuk anak usia SD. Ini banyak terjadi di buku-buku anak terbitan Indo. Tuh, kaann! Kalau nggak ikutan workshop ini saya mana tahu, wkwk.

Bu Roosie Setiawan saat memulai acara workshop
Kriteria buku cerita untuk anak di bawah tiga tahun diantaranya :
  • Cover hardbook
  • Jumlah kata maksimal 20 kata
  • Ukuran huruf agak lebih besar (saya kurang tahu tepatnya berapa tapi punya gambaran dari buku yang bu Roosie bawa)
  • Tidak menggunakan font yang berkait. Misalnya, untuk huruf 'a'-kecil gunakan huruf 'a' yang bulat.
  • Menggunakan kalimat sederhana yang mudah dimengerti
Sayangnya, aturan-aturan ini belum ada secara tertulis di sistem penerbitan kita. Tapi kabar baiknya, Reading Bugs---komunitas Read Aloud bu Roosie sedang merancang kriteria buku anak berdasarkan jenjang usianya. Bu Roosie bilang, semoga rekomendasinya ini bisa tembus ke pemerintah, industri penerbitan, dan para penulis cerita anak.


Oh iya, satu lagi bedanya read aloud  dan story-telling apa, ya? Sebenarnya keduanya sama-sama merupakan kegiatan bercerita kepada anak. Hanya saja kalau read aloud itu sambil membaca atau membuka buku tanpa perlu menghafal, sedangkan story-telling biasanya story-teller-nya menghafal seluruh alur cerita.

Bersama seluruh peserta workshop
Kegiatan membacakan nyaring, bisa dilakukan bahkan sejak dalam kandung saat fungsi organ pendengaran bayi mulai terbentuk. Membacakan nyaring bukan hanya tugas Ibu saja, Ayah pun punya peranan untuk sama-sama meluangkan waktu dan membacakan nyaring untuk anaknya.


Akhirnya, terima kasih banyak RB Literasi Ibu Profesional Bandung sudah mengadakan acara sekeren ini. Investasi ilmu yang luar biasa berharga buat saya pribadi. Semoga bisa menghadirkan workshop-workshop lain yang tidak kalah bermanfaatnya.

Sebagaian panitia dan komunitas #ODOP

Bandung, 140218
Acara workshop berlangsung pada Sabtu, 10 Februari 2018

You May Also Like

0 komentar

©