#EdisiTraveling : Manglayang : Perjalanan Nekat

by - 6:46 AM


 
Melintasi Kabut

Setiap perjalanan yang diniatkan untuk kebaikan selalu membawa hikmat dan berkah. Malam ini saya berdoa demikian, pasca perjalanan nekat yang kami lakukan hari Jumat, 31 Januari 2014. Yap, siapa yang menyangka perjalanan nekat saya dan Borin akan mengantarkan kami bertemu dengan orang-orang 'tak biasa' dari mulai berangkat sampai pulang.

Berawal dari kegelisahan yang Borin rasakan, kemudian beberapa kali kami ngobrol berdua tentang kerinduan naik gunung saking penat dan jenuhnya. Akhirnya, saya pun mengiyakan ajakan Borin itu. Saya pikir, saya pun butuh refresing dari berbagai rasa yang mendera. Berharap bahwa perjalanan kami akan meringankan apapun yang kami rasakan sebelum berangkat.

Mulanya saya ragu, pertama sampai jam 12:00 WIB ga ada satu pun teman kami yang mengkonfirmasi untuk bergabung bersama kami. Tadinya Borin ngajakin Phi juga, berhubung Phi lagi banyak kegiatan. Bukan apa-apa loh, Phi kan anak pecinta alam, dia lebih pengalaman tentang naik gunung, dkknya. Kedua, alat-alat camp yang ga lengkap. Tanpa ada tenda, tanpa jas hujan, dkk. Hanya sleeping bag, sedikit bensin dan panci disertai camilan ringan dan empat bungkus mie instan. Ketiga, pada akhirnya kami menempuh perjalanan dari bawah menuju kaki gunung Manglayang hanya berdua. Ya, hanya dua orang wanita berpostur kecil ini.

Seperti inilah jika hanya wanita, kami banyak diketrekin laki-laki, terong-terongan (baca : anak cowo smp/sma/sd) dan (ini yg paling asik) disapa dengan warga setempat. Kadang risih juga sih, mengingat kami bukanlah tipe wanita yg seneng diketrekin. Huh! Coba ada aja, satu orang laki-laki dalam perjalanan ini. Satu aja ! Oke, skip !

Kami mulai berjalan pukul 14:00 WIB, jalannya jalan santai... Borin beberapa kali ngambil video, katanya dia lagi pengen belajar ngedit video biar pas KKM ada kerjaan. Haha. Ceritanya saya jadi talent-nya gitu. Cuma take-take gambar saya yang lagi jalan sih.. Tapi, itu awalnya...

Daan, belum setengah perjalanan kami dipertemukan dengan Caleg dari partai PAN yang lagi kampanye dengan bagi-bagi kerudung ke ibu-ibu dan remaja kaya kami. Ckckck, padahal masa kampanye belum di mulai loh. Haha, si bapa caleg itu curi star duluan dengan membagi-bagikan kerudung dan ga lupa ada nama dia dan nomor urutnya.

Si bapanya bilang, "Jangan lupa ya neng, pilih Bapa. Kalo temen-temennya ada yang mau kerudung, ini kontak bapa aja. Ini kartu namanya."

"Siap, Pak !" Jawab Borin sambil ngambil kartu namanya. Alhasil, kami dapet kerudung. Haha. Padahal pas pemilu mah gimana nanti aja. Ga janji deeh Pa Caleg..

Sumpah, jalan ke gunung Manglayang turun-naik turun-naik dan bikin mandi keringaat. Saya pernah ke Manglayang satu kali, bareng Iki, Ane, sama Phi itupun dari bawahnya naik motor sampai gerbang Manglayang. Karena tujuan kami saat itu mau muncak. Perjalanan kedua bareng Borin berbeda, kami sengaja jalan kaki dari bawah sampai gerbang manglayang. Karena tujuan kita mau ngecamp, bukan muncak. 

Duo wanita nekat !


Perjalanan 'Spiritual'
Sesampainya di gerbang Manglayang, kami istirahat di sebuah warung. Di warung inilah perjalanan 'spiritual' di mulai. Mulanya kami bertemu dengan senior dari anak-anak pramuka yang sedang ada pelatihan. Namanya Ade, dia lebih muda dari saya dua tahun. Dari sana kami ngobrol cukup banyak.

Gara-gara si Ade ini, kami terjebak sama salah satu kuncen gunung ini yang lazim disebut 'paranormal'. Yah, percaya atau engga ... Saya juga sih, tapi sebatas pengen tau aja tentang yang kaya gitu. Oke, pertamanya telapak tangan kami diliat sama sang kuncen.

Telapak tangan Borin punya arti kalo dia punya sifat keras. Telapak tangan Ade punya sifat kalo dia ga bisa nahan amarah. Dan telapak tangan saya punya arti kalo saya orang yang mudah terpengaruh. Katanya gitu, kami sih cuma iya-iya aja. Haha.
 
Saya, Borin dan Ade
Dari sinilah kami terlibat obrolan tentang 'jati diri'. Sebenernya saya juga ga terlalu percaya sama yang gituan sih, tapi sebatas menghargai dia aja. Untuk beberapa hal, dia benar tentang saya. Namun untuk hal lainnya dia salah. Yang lebih ga logisnya adalah dia pake doa-doa mohon ke Allah tapi dianya sendiri ga solat loh! Aselinya, pas adzan ashar, maghrib, isya sama subuh, saya ga liat dia pergi ke musola ataupun solat di tempat lain. Haha, jadi.. Masihkah harus percaya? Saya dengan tegas menjawab : TIDAK ! Saya masih punya Allah yang Maha segalanya, segala kesusahan segala dosa-dosa saya, saya cukup memohon pada-Nya.

Kami melewati malam yang bener-bener aneh. Diluar dugaan, tidak biasa dan aneh. Yap, karena kami seolah di bawa ke dunia lain. Borin bilang mirip dejavu ketika kami bangun pagi. Saya cuma bisa bilang, lebih baik ga pernah tahu tentang dunia seperti itu dan jangan pernah menunjukkan rasa penasaran kalian kalo bertemu sama orang-orang kaya gitu. Percaya atau engga, kalian bisa diseret sampai jauh dari yang Maha Kuasa meskipun modusnya orang-orang kaya gitu bawa-bawa nama Allah.

Sepulang dari Manglayang, Borin masih agak bingung dan kita banyak diskusi tentang orang-orang semacam si kuncen itu. Dan kami ambil kesimpulan bahwa apapun yang terjadi malam itu, kami hanya perlu berlindung kepada Allah Ta'laa saja. Cukup sampai disana. Aah, sekarang saya tau dan melihat sendiri.. Ternyata hal-hal yang semacam itu memang masih ada. Ya Allah, lindungi kami...

Perjalanan Pulang
Setelah malam tadi yang lebih mirip dejavu-kalo kata Borin. Kami sengaja berangkat pukul 06:00 WIB dari Manglayang, niatnya pengen cepet nyampe rumah masing-masing. Kami juga ga sempet pamit sama si kuncen tadi. Biarlaah, kami hanya meninggalkan pesan saja.

Ada kejadian lucu selama perjalanan pulang. Kami istirahat di sebuah warung. Sayangnya warung itu ga buka. Jadi ceritanya kami istirahat disana, dan sarapan dengan mie instan mentah. Eeh, tanpa diduga tiba-tiba datang bapa-bapa yang ternyata namanya Pa Encep alumni IAIN tahun 1990. Sekarang beliau bekerja sebagai guru matematika. Dulunya lulusan jurusan matematika. Bapanya udah tua sih...

Dan gara gara si Pa Encep, si Borin mati gaya. Dia terpaksa mengakhiri sarapannya dengan mie instan mentah dan kami terpaksa harus menjadi pendengar setia cerita masa mudanya beliau. Selama satu jam kami tertahan di tempat itu dalam keadaan perut yang lapar. What!

Saking bosannya. Akhirnya saya pun melakukan aksi usil. Saya mengambil handpone. Dan ...

"Waalaikumsalam, iya .. Iya .. Bentar lagi pulang, ini masih dijalan. Oke, oke.."

Click ! Sukses !
Saya berhasil mengeluarkan kami dari cerita kesuksesan si bapa. Haha. Akhirnya kami pamitan sama si Bapa gara-gara saya angkat telepon. Suaranya sengaja saya kerasin biar kedengeran sama si bapa. Haha.

"Mblo, tadi telpone dari siaapa?" Tanya Borin setelah kami berpisah dengan si bapa.

"Gimana bisa ada telpon, hp-nya aja lobet. Haha" jawab saya sambil nahan ketawa.

"Anjiiir.. Hahahhaaa"

Kami ketawa ketawa aja sepanjang jalan pulang. Menertawakan betapa perjalanan ini begitu nekat dan konyol.

Banyak pengalaman berharga yang kami dapatkan selama perjalanan ini. Seperti jangan pernah melakukan hal yang nekat, terutama tetap memaksakan naik gunung sedangkan kalian hanya berdua dan keduanya wanita. Usahakan minimal berangkat dengan rombongan berjumlah 3 orang, lebih bagus lagi kalo ada laki-laki yang kita kenal. Agar lebih safety tentunya. Yah, tidak bisa dipungkiri bahwa ternyata kami –para wanita- membutuhkan kehadiran laki-laki terutama untuk melindungi yaa …. Beruntunglah kalian para lelaki.

See you in another destination.. Dan untuk selanjutnya saya ga akan senekat ini lagi. Janji.

Sebelum beranjak pulang :)


*home, 010214

You May Also Like

0 komentar

©