Bye, Si Bawel

by - 7:26 AM


gambar dari google.com

 Wuah, selamat pagi yang tidak enaaak !

Malam tadi, sebelum tidur, saya membayangkan sedang berada di lapangan luas. kemudian saya berlari sampai ngos-ngos-an. Saya berhenti sesaat dan mulai teriak sekeras-kerasnya, sekencang-kencang sampai urat leher saya rasanya akan putus. Kemudian saya menangis sejadi-jadinya di tempat itu sampai sesegukan.

Sayangnya yang terjadi malam itu, saya hanya berbaring di atas tempat tidur kemudian menutupi tubuh saya dengan selimut sambil memeluk erat guling kesayangan saya. Setelah membayangkan hal tadi, saya hanya bercucuran air mata sambil terus memeluk erat guling saya. Saya hanya berpikir sedang berada di lapangan itu sambil menangis. Akhirnya saya tertidur dalam kondisi yang emosional dan bangun dalam keadaan yang… kurang baik.

Yaap, saya rasa… saya berpikir semalaman padahal ceritanya saya tidur. Iya, rupanya fisik saya aja yang tidur tapi pikiran, hati dan jiwa saya engga. Hasilnya, pasti terasa kan? Bangun dalam keadaan kepala berat, mata sembab dan hidung berair. Rasanya engga enak memang, apalagi si hati, rasanya seperti patah hati waktu diputusin sama pacar tanpa alasan yang masuk akal. #Eaaaa.

Kegagalan berkali-kali membuat seseorang secara drastis berubah. Ya, berubah untuk bisa menjadi lebih baik demi tercapainya kesuksesan. Tentu saja, saya pun setuju dengan hal itu. Namun jika yang diubah adalah sifat kemanusiaan, rasanya saya kurang setuju. Sifat kemanusiaan yang saya maksud adalah dari tadinya selalu bercerita, selalu protes atau selalu ngoceh akhirnya memutuskan untuk diam.

Sejujurnya saya tidak pernah merasa keberatan bahkan tidak merasa terganggu jika dia banyak berceloteh. Sebaliknya, saya merasa senang, saya seolah mendapat kepercayaan untuk mendengarkan segala hal yang sedang ia kerjakan, ia alami dan ia nikmati. Namun, setelah ia mengalami hal yang membuatnya sangat sedih, seketika ia mendeklarasikan dirinya untuk menjadi pendiam.

Dia pikir, ketika dia menjadi pendiam, energinya akan lebih banyak tersalurkan kepada hal-hal yang sedang dikerjakannya. Yap, pemikirannya diperkuat dengan kejadian kejadian yang pernah ia alami sebelumnya. Dengan menjadi pendiam, dia dapat fokus untuk mencapai target yang diinginkannya. Dia pikir, kegagalan yang selama ini terjadi salah satunya karena ia telalu banyak berbicara tanpa action.

Saya sangat mendukung apapun yang sudah jadi keputusannya. Hanya saja, rasanya saya sangat sedih ketika harus berpisah dengan sifat bawel dia, sifat protes dia, bahkan sifat-sifat yang menurut orang lain mungkin ngeselin namun buat saya selalu betah untuk berlama-lama mendengarkannya. Rasanya seperti patah hati harus berpisah dengan sifat-sifat dia yang demikian.

Saya hanya merasa belum siap untuk menerima kenyataan bahwa saya tidak akan sebebas dulu ketika menghubungi ataupun berbicara dengannya lewat chatting. Dunia saya (mungkin) akan sunyi kembali, sama ketika sebelum kedatangannya. Mungkin saya hanya khawatir dan takut (benar-benar) kehilangan dia...

Aaah… yaaa, saya tidak boleh egois kan? Hanya memikirkan apa yang saya rasakan tanpa mau tahu apa yang diinginkannya. Ini memang dilema.

Hari ini saja, izinkan saya untuk bersedih sambil (agak) menangis. Setelah ini saya akan baik-baik saja, dan kembali ceria seperti biasanya. Sejenak, biarkan saya untuk mencerna setiap kata, setiap informasi yang telah dia sampaikan. Agar saya lebih memahami keadaan dia tanpa banyak menuntut ataupun meminta.

Mariii, saya mengumpulkan dulu si energi positif yaaa…. Sampai jumpa kembali ^.^


Kamis yang masih mendung, 030316

You May Also Like

0 komentar

©