#GameLevel1 : Curhat di Pagi Hari (Day 13-Bunsay Pranikah Batch #3)

by - 7:01 AM

Pagi ini agak mendung tapi seperti di pagi-pagi sebelumnya, Mama selalu bangun lebih pagi dan sibuk dengan kegiatan domestiknya. Satu hal yang saya kagumi dari Mama adalah sesibuk apa pun atau seabrek apa pun kegiatan di ranah publik, Mama nggak pernah menomorduakan urusan domestik di rumah. Terutama tentang makanan untuk anak-anak dan suaminya.

Kebetulan beberapa minggu terakhir ini Mama luar biasa sibuk karena akan menghadapi Musyawarah Cabang—salah satu kegiatan di organisasinya setelah dua tahun masa jabatannya di dalam organisasi itu. *Eh, btw, saya nggak tahu pasti deh antara dua atau tiga tahun masa jabatan gitu, hehehe

Paginya  selalu sibuk dengan urusan domestik yang bejibun dan luar biasanya selalu selesai tepat sebelum jam 08.00 ! Karena di jam segitu, Mama saya punya tugas untuk mengelola administrasi PAUD di RW kami bersama Ibu-ibu PKK lainnya.

Siangnya, Mama ngajar Ibu-ibu setempat kemudian dilanjutkan dengan ngajar anak-anak Madrasah Diniyah. Baru bener-bener rehat sekitar jam sore malah kalau lagi padat banget aktivitasnya bisa sampai maghrib baru pulang. She is—really Wonder Women !

Happy Mom, Happy Daughter. Sumber : pinterest.com
Di sela-sela kegiatan domestiknya, kami sarapan bareng sambil nonton tv. Biasanya di waktu-waktu kayaknya saya atau Mama memanfaatkan quality time untuk sekadar ngobrol-ngobrol santai. Sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya, Mama memulai curhatnya.... *bukan curhat deng, ngobrol santai, ya, hahaha

Teh, Mama denger bisikan-bisikan di beberapa Jama’ah katanya Mama mau dicalonin jadi Ketua,” ujar Mama.

“Oh, iya? Jadi makin sibuk, dong....,” sahut saya. “Mama bakalan makin sibuk dong,” ujar saya lagi menunjukkan ketidaksetujuan saya kalau misalnya Mama bener-bener diangkat jadi ketua. Saya cukup paham kalau jadi ketua dan mengelola satu kecamatan itu nggak mudah dan lebih banyak menguras lebih banyak tenaga serta waktu. “Tapi, kok, milihnya Mama, sih? Bukannya mau pada milih Bu Tia, ya?”

“Iya, justru itu Teh... Bahkan daerah tempat Bu Tia tinggal juga katanya nggak akan mengajukan Bu Tia untuk jadi ketua,” kata Mama. “Denger-denger, sih, katanya Bu Tia punya watak yang ngeselin gitu, jadi orang-orang pada kurang suka.”

“Tapi, sih, aku kurang setuju kalau Mama jadi ketua. Khawatir aja bakalan lebih banyak waktu di luar dan urusan rumah terbengkalai,” sahut saya menyampaikan pendapat dengan seobjektif mungkin.

“Mama juga nggak pengen, Teh... Entahlah, padahal, kan, manusia mah nggak ada yang sempurna, ya... Termasuk Mama juga,” ujar Mama menanggapi komplen saya.

Mama lagi sarapan 
Menyampaikan ketidaksetujuan atas sebuah pernyataan tetap harus disampaikan dengan baik, ya. Saya ingetnya materi komunikasi produktif Kaidah 2C dan 7-38-55. Dua kaidah itu pedoman banget, deh, saat kita menyampaikan pesan apa pun (saran, kritik, nggak setuju, komplen, dll) kepada siapa pun. Satu hal lain yang nggak kalah penting adalah menilai pesan secara objektif. Ini salah satu prinsip sikap terbuka yang sangat berpengaruh terhadap efektivitas komunikasi interpersonal.

Saya boleh share dikit tentang prinsip ini, ya? Yap, Jalalludin Rakhmat dalam buku Psikolagi Komunikasi mengungkapkan jika prinsip sikap terbuka ini meliputi :
  1. Menilai pesan secara objektif dengan menggunakan data dan keajegan logika
  2. Membedakan dengan mudah, melihat suasana, dsb
  3. Berorientasi pada isi
  4. Mencari informasi dari berbagai sumber
  5. Lebih bersifat provisional dan bersedia mengubah kepercayaannya
  6. Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya

Jadi terasa, ya... betapa punya sikap terbuka alias open mind itu perlu banget. Setidaknya, sih, buat saya pribadi. Rasanya dengan berpikir terbuka setiap pendapat/pandangan/persepsi yang sampai, bisa saya tanggapi dengan sebijak mungkin.




#hari13 #gamelevel1 #tantangan10 hari
#komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip



 Bandung, 121117
Untuk kenyamanan tokoh yang terlibat dalam cerita ini, nama sengaja saya samarkan. Berhubung posting di blog bersifat publik. Terima kasih.

Sumber bacaan :
Materi 1 Komunikasi Produktif-Kelas Bunda Sayang Batch #3
Psikologi Komunikasi, Jalaluddin Rakhmat


You May Also Like

0 komentar

©