#GameLevel2 : Mengidentifikasi Aktivitas yang Belum Mandiri (Day 1-Bunsay Pranikah Batch #3)

by - 6:41 AM

Betapa game level 2 ini begitu challenging! Materi bulan kedua secara umum membahas tentang Melatih Kemandirian Anak. Nah, kan, berhubung saya masuknya kelas Bunsay Pranikah, jadi diskusi tentang materi ini pun banyaknya membahas tentang diri sendiri yang mengerucut kepada pertanyaan:  Sudahkah kita (sebagai perempuan) mandiri?

Mandiri punya banyak arti, kalau dari Institut Ibu Profesional mandiri berarti :
  • Suatu penghayatan/semangat untuk menjadi lebih baik dan percaya diri
  • Mengelola pikiran untuk menelaah masalah dan mengambil keputusan untuk bertindak 
  • Bertindak dan bertanggungjawab
  • Tidak bergantung pada orang lain

Kemandirian. Sumber : Materi Kelas Bunsay Batch #3
Keempat poin inilah yang jadi patokan seseorang bisa dikatakan mandiri. Kalau ditelaah lebih jauh, beberapa aktivitas keseharian saya belumlah masuk kategori mandiri. Sebenarnya, saya tuh bisa banget jadi mandiri, sih, kalau jauh dari orang tua, hehehe. Yap, berhubung sekarang saya balik lagi ke rumah (selama kuliah sempat ngekos dan nggak ada masalah dengan aktivitas sehari-hari), sehingga beberapa pekerjaan rumah—akhirnya di-handle kembali oleh Mama saya.

Padahal, ya, kalau katanya Havigrust (1970) aspek kemandirian seseorang itu meliputi :
  1. Aspek Intelektual : mandiri dalam berpikir, menalar, dan memahami beragam kondisi
  2. Aspek Emosi : mandiri dalam mengelola dan mengendalikan emosi serta reaksinya dengan tidak bergantung secara emosi dengan orang tua
  3. Aspek Sosial : mandiri dalam hal aktif membina relasi sosial dan tidak bergantung pada orang sekitarnya
  4. Aspek Ekonomi : mandiri mengatur ekonomi, kebutuhan tanpa bergantung kepada orang tua

Kemandirian. Sumber : Materi Kelas Bunsay Batch #3
Berdasarkan hal-hal di atas, saya akhirnya mengamati diri saya sendiri dan ketemulah salah satu (sebenernya setelah ditelaah ternyata banyak, sih, haha) aktivitas yang saya rasa sangat penting apalagi jika nanti sudah menikah dan punya anak. Nggak kebayang kalau Emaknya pemalesan hanya untuk ngerjain yang ginian *wkwk, enteng banget bilang ‘yang ginian’. Aktivitas itu adalah nyetrika baju ! Hahaha.

Faktanya, berdasarkan curhatan Emak-emak temen sekelas saya saat di kelas Matrikulasi, aktivitas menyetrika pakaian ini adalah salah satu kegiatan Emak-emak yang paling wegah (wegah tuh artinya malesin, membosankan). Udah gitu, tumpukan pakaian rasanya bejibun banget dan kok yaa nggak selesai-selesai. Iya, kan, Mak?!

Kanan : sebelum disortir. Kiri : setelah disortir
Karena hal itulah saya merasa wajib untuk menantang diri saya untuk melakukan challenge ini, yaitu menyetrika pakaian saya sendiri selama tujuh hari berturut-turut . Untuk kondisi saya saat ini, saya memang malesan banget untuk setrika baju sendiri (apalagi baju sekeluarga, hahaha!), lagian ada Mama juga yang dengan baik hati mau setrika-in baju saya *Nah! Kagak mandiri banget!. Jadilah, mulai hari ini saya pdkt-an sama tempat setrikaan kemudian mulai menyortir tumpukan baju-baju yang udah kering ini. Saya hanya menyortir baju saya saja, saya mau mulai mandiri untuk setrika pakaian sendiri, nih.

Mama saya biasanya setrika baju setelah shalat subuh, jadilah saya mencuri start dengan melakukannya pada malam harinya. Hmm, lumayan yaa saya menghabiskan waktu selama 30 menit untuk merapikan tumpukan pakaian saya. Lumayan, cukup bikin kepanasan dan capek, ya.... Hahaha. Tapi, Alhamdulillah dapat terlewati dan selesai dengan baik ! Yeay ! Ternyata nggak capek-capek banget, sih. Semoga tetep bisa konsisten One Week One Skill.

Momen-momen membahagiakan karena berhasil setrika baju sendiri
#Harike-1
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Bandung, 291117

Sumber bacaan :
Materi 2 Melatih Kemandirian Anak-Kelas Bunda Sayang Batch #3

You May Also Like

0 komentar

©