#GameLevel3 : Bukan Sekadar Baca Al-quran (Day 1-Bunsay Pranikah Batch #3)

by - 11:01 PM

Ada hal yang agak dilematis saat memasuki tantangan di Game Level 3 terutama bagi para Galibu (Gadis Calon Ibu)—sebutan hangat kami sesama peserta kelas Bunsay Pranikah. Game-nya memang challenging, sih, terutama dalam upaya pencarian patner meskipun khusus bagi para Galibu boleh aja jika berlatih sendiri tapi kalau kata Fasil di kelas, sih, lebih terasah kalau ada patnernya.

Pada saat seperti inilah saya kembali meraung-raung memanggil nama Sen. Tu anak ajaib memang sumber ilmu pengetahuan saya, sih. Selama ini dia banyak sharing tentang penemuannya terkait Allah alias Tuhan, penemuan yang menurut saya luar biasa karena seumur-umur saya baru ketemu orang yang demikian gigih mempertanyakan Tuhannya karena dia nggak mau bertuhan hanya karena orang tuanya memeluk satu agama tertentu.

“Kamu tahu kenapa ayat pertama bunyinya Iqraa yang punya arti Bacalah?” tanya Sen setelah saya bilang pengen belajar tentang Spiritual Intelegence yang terkait dengan Islam. Lalu sesi diskusi kami melalui telepon mulai dengan pertanyaan yang terlontar darinya.

“Supaya kita mau bisa baca wahyu yang diturunkan Allah?” tebak saya sekenanya. “Salah, ya? Kenapa, ya, Sen?” 

“Itu benar, tapi menurutmu baca yang kayak gimana? Kalau sekadar baca aja, berarti Nabi Muhammad udah melanggar perintah Allah, dong... Buktinya, Nabi Muhammad diceritakan buta huruf. Terus, bacanya gimana?” tanya Sen lagi.

Ayat pertama Surat Al-'Alaq
Hadeuh. Kayaknya kapasitas otak saya perlu di-upgrade setiap kali dapet pertanyaan model begini. Apalagi kalau datangnya dari Sen. Oke, FYI, IQ Sen saat SMA berada dikirasan 130-an. Dia masuk salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, tempat ngumpulnya orang-orang pinter se-Nusantara, dan sempat terpilih untuk berbicara mengenai penelitiannya di konferensi Internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

“Eh? Iya juga, ya?” Saya pun jadi kepikiran.  Seingat saya yang pernah belajar Sejarah Nabi, memang benar keadaan Nabi Muhammad tuh Ummy alias buta huruf. “Jadi maksudnya baca gimana, dong?”

Setiap kali diajakin ngobrol yang serius, otak saya dibikin puyeng karena mesti mengikuti ritme pemikiran Sen—yang menurut saya, sih, kecepetan. Tapi saya bersyukur punya patner berbagi ilmu seperti Sen. Walaupun dia nun jauh berada di Pulau berbeda dengan saya, tapi dia nggak pernah pelit ilmu. Dia mah seneng banget bisa berbagi pengetahuannya ke saya. Saya pun makin seneng karena terbantu dengan dapet banyak pengetahuan lewat Sen.

“Baca dengan penuh pemahaman,” jawabnya. “Artinya, apa yang kita baca bukan sekadar baca aja tapi dipahami maknanya, diresapi apa maksud Allah menulis ayat tersebut. Jadi, kalau kamu baca Al-quran sekadar baca Arabnya aja, kamu belum mengamalkan apa yang diperintahkan Allah. Menurutku, ya, terkecuali kalau kamu sudah mahir berbahasa Arab dan memahami ayat-ayat dalam Al-Quran tanpa harus melihat terjemahannya.”

“Jadi, baca Al-quran arabnya aja nggak boleh, Sen?” tanya saya masih mencerna omongannya.

“Ya, boleh-boleh aja daripada kamu baca komik atau novel, kan?” ujarnya, “Tapi maksudku, gini, baca Al-quran itu bukan hanya mengejar kuantitasnya aja, bukan cuma mengejar pahalanya aja missal baca satu huruf udah dapat pahala kalau baca satu halaman pahala makin banyak. Bukaaan! Dikira baca Al-quran kayak main di Timezone,” katanya santai.

Sumber : pinterest
“Lebih bermakna lagi, kalau kamu memahami firman Allah-nya bukan hanya baca Arabnya aja kecuali kalau kamu sudah paham bahasa Arab, itu lain cerita. Makanya, aku lebih efektif untuk baca artinya aja sampai saat ini karena belum bisa bahasa Arab. Dan aku menyadari kalau belajar bahasa Arab itu penting banget, biar bisa memahami firman-firman Allah,” lanjutnya lagi. 

“Ahh, iya, Sen... Selama ini aku baca Al-quran arabnya aja, meskipun nggak ngerti dan mengabaikan terjemahannya. Padahal itu salah, ya,” aku saya.

“Nah, iya, Al-Quran kan bukan matra,” celetuknya.

Perbincangan kami nggak berhenti sampai sini, sih. Tapi saya udah dapet satu pelajaran utama tentang hal yang berhubungan dengan kecerdasan spiritual. Kadang, malu sendiri sama Sen yang bisa mikir sampai segitunya tentang Islam padahal dia bukan lulusan Pesantren. 

Ah, tapi saya bersyukur, sih, bisa kenal dengan Sen yang sebegitu banyak mikir tentang agama yang dianutnya. So, yeah, target saya selama beberapa hari ke depan pengen rutin baca Al-quran satu halaman plus artinya biar paham maksud firman-firman Allah yang sedang saya baca.


#tantangan_hari_ke1 #kelasbunsayiip3
#game_level_3 #kami_bisa



Bandung, 040118

You May Also Like

0 komentar

©