In Artikel musiktulus tulus

5 Alasan yang Membuat Jatuh Hati dengan Musik Tulus


Nggak asing lagi dengan musisi bernama Tulus,  kan? Yap, musisi Indonesia yang punya background pendidikan Arsitektur ini memang selalu menyajikan karya yang menyentuh untuk para penikmatnya. Penyanyi yang punya nama lengkap Muhammad Tulus ini lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat punya sederet prestasi yang nggak usah ditanya lagi selama tujuh tahun ia berkarir di insustri musik. Yaah, nggak usah ditanya lagi memang, karena setiap lagunya aja selalu jadi favorit pendengar sampai mancanegara.

Sebanyak 50 penghargaan sudah diraih Tulus melalui tiga album yang sudah dirilisnya. Mulai dari Album bertajuk Tulus (2011), Gajah (2014), dan Monokrom (2016). Yang kerennya adalah Tulus nekat memproduksi sendiri seluruh albumnya dengan bantuan Ari Aru Renaldi---kakak kandungnya, yang saat ini menjadi sebuah perusahaan label musik independen bernama TulusCompany. Kenekatan itu membuahkan hasil yang spektakuler. Hampir semua  lagu Tulus meledak di pasaran.

Kenapa Jatuh Hati dengan Musik Tulus?


sumber: situstulus

Saya termasuk diantara menikmat musik Tulus yang selalu punya playlist musik-musiknya entah itu di ponsel ataupun di laptop. Tulus is everywhere-lah kalo buat saya mah. Sewindu jadi lagu pertama yang bikin saya jatuh cinta  untuk pertama kalinya dengan musik Tulus. Dari sana, perasaan cinta itu semakin mendalam.  *Eaaak😘

🎶 Ciri khas yang membedakan Tulus dengan musisi lainnya adalah kekuatan lirik yang puitis nan romantis dalam setiap musiknya. Puitis dan romantis tapi nggak lebay.

🎶 Bagi saya yang nggak suka 'musik keras', semua lagu Tulus otomatis masuk playlist saya karena musiknya yang rata-rata lembut atau penuh semangat, tapi dengan porsi yang pas.

🎶 Semua lagu yang di-cover oleh Tulus seketika berubah menjadi 'tulus banget' dan bikin nagih untuk dengerin lagi. Contohnya aja lagu 1000 Tahun Lamanya karya band legendaris Jikustik, bisa jadi 'tulus banget' dong dan tetap bikin jatuh hati.

🎶 Suara Tulus khas banget.  Udah pasti tahu kalau itu Tulus tanpa lihat penyanyinya sekalipun. Beberapa video klip dari album Monokrom dibuat beda dari video klip pada umumnya, itu sih keren banget. Yang paling berkesan buat saya video klip Manusia Kuat, serasa nikmatin Puppet Theater. Ternyata, nama boneka itu Teluwani---itu dinamai oleh Tulus. 

🎶 Baru-baru ini kembali dibuat jatuh hati dengan lagu Adu Rayu hasil kolaborasi keren antara Tulus, Glenn Fredly,  dan Yovie. Tiga musisi keren ngumpul dalam satu lagu, jadinya gimana? WOAAH! Rasanya perempuan mana pun pengen jadi tokoh cewek yang ada di lagu itu,  hahaha.


Sejauh ini, musisi favorit saya memang Tulus. Belum berniat nambah lagi, hahaha. kalau kamu punya musisi idola nggak?



Sumber gambar : SitusTulus

Music video : Adu Rayu-Tulus,Glenn Fedly, Yovie


P.S: Tadinya tulisan ini akan diposting lewat instagram saya, namun entah kenapa instagram eror nggak jelas tapi saya kadung greget pengen posting tulisan ini, hahaha. Akhirnya, kembali ngisi blog. Yeaaai!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Artikel

Ngomongin Nikah: Apakah Pernikahan Menjegal Setiap Aktivitas Perempuan?


Sebenarnya, gegara mau posting tulisan ini di instagram tapi kepanjangan. Akhirnya, yaa akhirnya! Saya menulis kembali di blog setelah bulan lalu nggak ngisi blog ini dengan tulisan, wkwk. Jadi, apa yang akan dibahas kali ini? Silakan simak dengan santai, jangan dulu nge-gas, sis.

Apakah pernikahan menjegal setiap aktivitas perempuan?


Pertanyaan ini terlintas dalam benak saya sesaat setelah mendengar alasan beberapa teman yang enggan diamanahi sebuah tugas untuk kebermanfaatan orang banyak, bahkan sampai beberapa dari mereka 'ngacir' dengan berbagai alasan.

Sejujurnya, ini jadi pertanyaan besar buat saya yang belum menikah. Pernikahan sebegitu menjegal aktivitas perempuan,  ya? Nikah serem dong,  ya,  bikin perempuan 'terpenjara' dalam rumah yang cuma ngurusin dapur dan kasur aja. 

Tapi,  di sisi lain, ada beberapa teman yang sudah menikah dan mereka bisa beraktivitas itu-ini dengan luar biasa. Bahkan sambil gendong, jinjing tas, sampai 'nungtun' dua-tiga anaknya dalam upaya mencari ilmu dan tetap bermanfaat bagi orang banyak.

Apakah ada yang salah dalam pernikahan? Entahlah, sejauh ini saya cuma 'sotoy' aja sambil nulis ini. Karena? Ya, saya mana tahu, orang saya belom nikah,  wkwk. 

Terus kenapa bahas ini, dong? Simpel aja, sih, karena ini bagian dari keresahan saya tentang pernikahan. Kalau para komika menyampaikan keresahannya melalui materi stand up comedy mereka. Maka saya menyampaikan keresahan saya lewat tulisan karena kalau disuruh stand up comedy mah itu bukan keahlian saya, ya. 

Jadi,  kalau opini saya... 


sumber: unsplash

🌷 Ada visi-misi dari suami-istri yang nggak sinkron. Atau yang lebih serem kalo ternyata selama tahunan menikah antara suami-istri ini nggak tahu/punya visi-misi pernikahan yang jelas. Sekadar beranak aja,  gitu? OMG! Saya kayaknya nggak mau deh punya pernikahan yang begitu. 

🌷Suami-istri nggak bisa atau nggak mengusahakan komunikasi secara terbuka sampai tanpa sadar terbentuk 'gap' yang cukup jauh antara keduanya. Akhirnya istri sungkan mengungkapkan apa yang jadi keresahannya kemudian suami engga peka dengan apa yang dirasakan si istri. Terbuka di sini tuh, keduanya bisa saling cerita tentang apa yang dirasakannya dari yang terpenting sampai yang ter-enggak penting.

🌷 Kepercayaan dari suami kepada istri belum sepenuhnya terjalin apalagi kalau tipe suaminya agak posesif. Beuuh, mungkin gerak langkah si istri bisa sangat terbatas banget. Ckck, saya sih ogah punya suami begitu. Saya lho ini mah, karena kayaknya ada aja perempuan yang pengen diposesif-in sama pasangannya.

Saya cukup yakin,  jika pernikahan bukan alasan mutlak yang menghalangi perempuan dalam beraktivitas di luar rumah. Begitupun, dengan keyakinan saya kalau pernikahan memang kehidupan paling kompleks yang terjadi pada manusia.

Jadi,  tulisan ini sama sekali bukan untuk menyudutkan perempuan yang sudah menikah. Saya cukup memahami bahwa setiap perempuan yang sudah/belum menikah pasti punya skala prioritas tentang kebermanfaatan dirinya bagi orang banyak. Bahasa lainnya, sebelum ke luar, kuatkan fondasi di dalam. Begitu mungkin, ya. 

Kemudian,  apakah pernikahanmu menjegal setiap aktivitas yang ingin/bisa kamu lakukan? Sila tanyakan pada dirimu dan pasanganmu.


P.S: 
Lewat tulisan ini saya makin paham bahwa ada yang seharusnya lebih dipikirkan daripada pertanyaan kapan nikah, yaitu bagaimana merancang hidup bersama pasangan (yang tepat) setelah menikah. Jadi, milih pasangan nggak bisa ngasal memang. Sungguh, kehidupan ini kompleks sekali.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In challenge

Penggila Mobile Game? 7 Spesifikasi Smartphone Kelas Menengah yang Wajib Dimiliki Agar Nge-game Lancar Tanpa Hambatan


Mobile game atau game yang bisa dimainkan melalui smartphone semakin beragam dan menghadirkan pengalaman game yang luar biasa. Sayangnya, sensasi yang bisa dirasakan dari mobile game ini tidak ada efek apa pun jika kamu hanya menggunakan smartphone biasa tanpa ada spesifikasi tambahan yang dapat mendukung jalannya mobile game ini.

Jangan salah, kalau untuk nge-game aja udah lancar jaya, apalagi untuk aktivitas lainnya seperti bikin laporan, desain, nonton video, foto-foto, atau lainnya. Dijamin bikin kamu betah dan makin asyik berkegiatan dengan smartphone. Nah, kira-kira spesifikasi smartphone mid-range yang kayak gimana sih yang bisa mendukung aktivitas nge-game tanpa hambatan ini?

Bermain game. (sumber: https://selular.id)

1. Prosesor  atau CPU (Central  Processing Unit) canggih adalah otak utama agar game berjalan lancar tanpa hambatan, Snapdragon 632 jadi jawabannya

Qualcomm Snapdragon (sumber: androidcommunity.com)

Tahu dong kalau prosesor canggih bikin segala aplikasi termasuk nge-game lancar tanpa lag. Pertengahan tahun 2018 lalu, Qualcomm Technologies, Inc merilis Snapdragon 632 dengan kecanggihan yang layak dilirik seperti  teknologi proses FinFET, CPU Qualcomm Kryo 250 dan GPU Qualcomm Adreno 506.

Kecanggihan Snapdragon 632 ini memberikan performa smartphone mencapai 40 persen sehingga pengambilan video 4K, mainstream gaming, konektivitas LTE berkecepatan tinggi bisa dinikmati tanpa perlu khawatir lagi. 

Yang bikin menggoda, Snapdragon 632 punya keunggulan hemat daya dan tidak membuat smartphone cepat panas. Untuk smartphone kelas menengah, kemampuan Snapdragon 632 ini bekerja dengan efektif. 

2. Smartphone dengan RAM gahar jadi spesifikasi yang harus dipertimbangkan, RAM 4 GB memberikan kepuasan untuk bermain game 

RAM (sumber: ponselmu.com)

Kehadiran CPU yang canggih akan terasa mubazir jika tidak disandingkan dengan kapasitas RAM yang mumpuni. Untuk smartphone game di  kelas menengah, minimal harus memiliki kapasitas RAM sebesar 2 GB tanpa adanya aplikasi media sosial agar game berjalan dengan lancar.

Apalagi  jika  memilih smartphone dengan ukuran RAM 4 GB, pastinya akan memberikan ruang yang lebih leluasa saat kamu memainkan game kelas berat.  Pada intinya, semakin leluasa ukuran RAM maka semakin lancar proses nge-game tanpa adanya lag yang mengganggu mood saat bermain. 

Oh iya, sebesar apa pun RAM yang tertanam dalam smartphone kelas menengah, kamu harus tetap me-manage dengann baik dan memilih dengan cermat aplikasi mana saja yang benar-benar kamu butuhkan. Terkecuali, jika kamu memiliki smartphone lain yang khusus untuk bermedia sosial dan nge-game. Rasanya, itu akan lebih baik.

3. Pertimbangkan smartphone kelas menengah dengan resolusi dan ukuran  layar yang nyaman saat bermain game

Resolusi Terbaik (sumber: www.thefoodxplorer.com)

Untuk smartphone kelas menengah, resolusi dan ukuran layar mungkin nggak bisa muluk-muluk. Namun, pilihlah smartphone yang minimal punya resolusi 720p dan ukuran layar 5 inci. Ini ukuran minimalnya, lho. 

Tentu saja akan lebih nyaman jika kamu mendapatkan smartphone kelas menengah yang punya resolusi HD dan ukuran layar mencapai 6.3 inci. Main game kelas berat pun semakin asyik, kan? Tampilan grafis yang tersaji pasti makin keren dan puas.

4. Baterai  yang tahan lama punya andil cukup besar untuk menunjang kegaharan CPU dan RAM 

Baterai Tahan Lama (sumber: gadgetren.com)

Otak dari sebuah smartphone yang canggih akan terbuang percuma jiga kapasitas baterai yang dimilikinya tidak dapat menunjang kinerja smartphone tersebut. Bagi penggila mobile game, penting banget untuk mempertimbangkan smartphone dengan kemampuan baterai yang cukup. 

Standarnya, pilih smartphone yang minimal memiliki kapasitas 2.600 MAh. Lebih dari 2.600 MAh tentu lebih baik karena aktivitas bermain main cukup menguras daya yang dibutuhkan untuk mendukung tampilan grafis dari game yang dimainkan.

5. Smartphone yang ramping bisa jadi pertimbangan, apalagi ditunjang kualitas kamera depan-belakang yang keren

Ramping (sumber:

Semakin ramping, semakin ringan, dan nyaman sang smartphone digenggam ke mana-mana. Selain empat teratas yang sangat berkaitan dengan masalah mesin dari smartphone khusus games, smartphone yang semakin ringan tentu memudahkan kita untuk membawanya walaupun hanya di dalam saku celana.

Siapa bilang kalau gamers nggak doyan foto-foto? Ah, kulitas kamera depan dan belakang yang lebih dari standar nggak boleh dilupakan juga. Kebutuhan untuk mengabadikan momen dengan cara praktis dan cepat mungkin hanya bisa dilakukan oleh smartphone yang ada dalam genggaman. Kamera belakang 13 MP dan kamera depannya 2 MP bisa manfaatkan untuk membidik objek-objek keren melalui smartphone.

6. Desain masa kini dan pilihan warna stylish, bikin smartphone-mu makin keren, kan?

desain beragam (sumber: bgr.in)

Tampilan dan body sebuah smartphone seringkali bukan jadi pertimbangan banyak orang. Smarthphone yang tergolong ramping bisa jika memiliki ketebalan 7,7 mm dan beratnya 160 gram. Cukup ramping, bukan?

Jika dilihat secara garis besar, mungkin sebagian dari kita tidak begitu memperhatikan warna-warna yang sedang tren saat ini. Smartphone dengan warna hitam, biru, dan abu-abu selalu jadi primadona dan tentunya tidak memberikan kesan feminin untuk laki-laki. 

7. Yang pengen smartphone gahar tapi harga miring mana suaranya? Wuhuuh!

Asus ZenFone Max 2 (sumber: www.phonecurry.com/)

Nah, apalagi yang dicari para pemburu smartphone selain spesifikasi gahar namun harga tetap ramah kantong. Yap, belakang berbagai merek smartphone memang gencar menawarkan fitur gahar dengan harga miring. Sayangnya, tidak semua fitur smartphone super canggih ada dalam satu genggaman saja.

Segala hal yang rasanya nggak mungkin, akhirnya dapat terwujud! Yap, smartphone yang memiliki fitur lebih dari standar yang telah disebutkan sebelumnya bisa kamu nikmati melalui smartphone Asus ZenFone Max 2 yang saat ini dibanderol seharga Rp 1.999.999 di salah satu toko online terpercaya untuk RAM 3 GB dan ROM 32 GB.

Whaaaatttt??!!! Dengan dua juta aja sudah bisa bawa pulang smartphone untuk mobile game dari Asus ini? Yap, apalagi Asus ZenFone Max 2 ini masih bersaudara dengan Asus ZenFone Max Pro yang harganya masih di angka tiga jutaan. Jadi, untuk yang gemar nge-game kelas berat di smartphone, pengen punya smartphone spesifikasi gahar, dan harga yang murah, kamu bisa cari  Asus ZenFone Max 2.

Sssssttt, teknologi CPU yang telah diperbaharui punya kelebihan nggak bikin smartphone mudah panas, guys. Jadi, tunggu apalagi? Untuk kamu yang sednag mempertimbangkan membeli smartphone baru, Asus ZenFone Max 2 bisa jadi pilihan.

Asus ZenFone Max 2

Spesifikasi Asus ZenFone Max 2

Tulisan ini dalam rangka lomba blog BOY Writing Competition yang berakhir pada tanggal 31 Januari 2019.

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Artikel

Suka Nulis Fiksi? 5 Platform Menulis Ini Harus Kamu Coba, Siapa Tahu Bisa Mendulang Rupiah!


Menulis bikin kamu sehat. Menulis jadi sarana self healing saat kamu mulai stres dengan berbagai hal yang terjadi dalam hidup ini. Ada yang setuju? Saya 100% setuju. Banget! Kayaknya saya sampai di satu titik yang bener-bener agak menghindari untuk cerita berbagai hal apalagi kesedihan, kemalangan, dan hal-hal negatif yang saya rasakan ke orang lain.

Nah, menulis jadi solusi untuk menyalurkan segala macam emosi negatif yang bersarang dalam hati kita. Syukur-syukur bisa mendatangkan rezeki tambahan lewat tulisan kita, iya, nggak? Kali ini saya akan berbagi pengalaman menggunakan beberapa platform menulis fiksi yang bisa kamu gunakan untuk menyalurkan segala macam emosi yang ada. Oke, baiklah... Mari kita langsung bahas aja, ya!

1. Wattpad

wattpad
Platform menulis yang satu ini udah populer banget, ya. Dari anak SMP sampai Emak-emak yang demen nulis+baca pasti tahu deh sama Wattpad. Platform menulis dan membaca yang gartisan ini, didirikan oleh Allen Lau dan Ivan Yuen sejak tahun 2006. Mulanya, Wattpad banyak digunakan oleh orang-orang Amerika kemudian menyebar ke Britania Raya, Kanda, Filipina, Australia, Uni Emirat Arab, dan nggak ketinggalan Indonesia.

Saya kenalan sama Wattpad mungkin sekitar tahun 2016-2017, gitu. Platform ini memfasilitasi penulis dan pembaca untuk berbagai genre tulisan dapat saling menikmati karya secara gratis. Sebenernya nggak fiksi aja, sih. Nonfiksi juga bisa kamu terbitkan di Wattpad. Kekurangan di Wattpad tuh karya kita bisa di copy-paste dan sangat berpotensi adanya plagiarisme.

Saat ini, banyak para penulis Wattpad yang karyanya bisa tembus penerbit mayor, lho. Salah satunya aja, Aqessa Aninda penulis novel Secangkir Kopi dan Pencakar Langit yang mulanya ditulis di Wattpad dan mendapat banyak pembaca. Karya tersebut akhirnya berjodoh dengan penerbit Gramedia sampai cetak ulang beberapa kali.

Aplikasi Wattpad bisa diunduh langsung lewat Playstore atau kalau kamu lagi buka laptop, langsung aja buka situsnya www.wattpad.com agar lebih leluasa mengakses semua fitur Wattpad. Tenang, aplikasi ini gratis, kok. Jangan lupa untuk follow beberapa akun penerbit mayor yang juga eksis di Wattpad.

2. Sweek

Sweek
Sama halnya dengan Wattpad, Sweek adalah platform menulis fiksi yang memfasilitasi kamu untuk menulis berbagai genre fiksi. Saya pertama kali tahu Sweek saat ada lomba menulis bareng penerbit Grasindo dan Loveable tahun lalu kalo nggak salah. Kurang lebihnya sama banget sih dengan Wattpad.

Bedanya, kalo Sweek bisa membantu kamu untuk menerbitkan buku secara indie melalui Sweek Publishing. Selain itu, Sweek pun biasnya rutin mengadakan lomba menulis, lho. Mulai dari pusi, cerpen, sampai novel dengan hadiah yang cukup menggiurkan. Untuk pemula, ini bisa jadi ajang latihan yang efektif, lho.

Sweek bisa diunduh melalui Playstore secara gratis dan bisa juga mengakses langsung situsnya di www.sweek.com. Cerita yang ada di Sweek bisa kamu nikmati secara gratis juga.

3. Storial

Storial
Storial adalah platform menulis yang memfasilitasi karya kamu dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi. Storial didirikan oleh Steve Wirawan, Aulia Halimatussadiah, dan Brilliant Yotenega, sekitar tahun 2015. Ketiga fouder ini adalah yang membuat platform percetakan buku on demand, yaitu Nulis Buku. 

Kamu tahu yang membanggakan dari Storial? Platform menulis ini adalah platform menulis pertama karya anak bangsa. Keren, kan? Nah, Storial pun rutin mengadakan lomba menulis, lho. Biasanya tiap bulan November tuh, sebulan penuh harus selesaikan cerita di paltform ini. 

Yang saya suka dari Storial ini, karya yang sudah kita tulis itu nggak bisa di-copy paste sama orang lain kecuali kalau si plagiatnya mau bersusah payah ngetik ulang karya kita. Saya rasa untuk proteksi keamanan cukup, ya... Sebagai penulis kitanya nggak was-was gitu takut diplagiat. Aplikasi Storial bisa diundur lewat Playstore atau bisa juga mengakses langsung ke situsnya di www.storial.co

Sejak Maret 2018, Storial mempunyai fitur cerita berbayar. Ini tentu menguntungkan untuk penulis juga dan mulai banyak penulis-penulis kece yang memanfaatkan fitur ini, lho. Tapi untuk membuat cerita kita berbayar, ada syarat yang harus dipenuhi oleh penulis terkait karyanya, lho. Penasaran? Langsung cek aja situsnya!

4. Gramedia Writing Project

GWP
Gramedia Writing Project alias GWP adalah platform menulis fiksi yang setiap tahunnya rutin menyelenggarakan lomba menulis. Biasanya, genre yang disayembarakan adalah Teenlit dan Young Adult. Mungkin karena target pembacanya untuk remaja usia SMA sampai dewasa awal, kayaknya. Ini saya sotoy aja, sih, wkwk

Kalau nggak salah, sih, sampai tahun ini GWP udah nyampe batch #3, gitu. Kalau nggak salah lagi, GWP juga hanya bisa diakses lewat website-nya aja di www.gwp.co.id, nggak user friendly  kalo kamu bukanya di smartphone.  Seperti namanya, GWP ini punyanya Gramedia yang biasanya memang menerbitkan genre Teelit dan Young Adult.

5. Basabasi

Basabasi
Terakhir, ini sih kalau saya pribadi lebih senang menafsirkannya sebagai majalah online, ya. Kenapa bisa kayak gitu, soalnya pas ngeakses situsnya, saya seperti dejavu lagi baca majalah kayak femina atau gadis. Basabasi menghadirkan banyak rubrik seperti ulasan film, ulasan buku, tokoh, cerpen, esai, dan banyak lagi.

Kabar baiknya, kamu bisa mengirimkan karyamu ke redaksi Basabasi dan jika berhasil publish di website-nya kamu bisa dapet duit. Asyik, kan? Iya, asyik! Namun, jangan senang dulu... karena tidak semudah itu, Ferguso! *wkwkw, tetiba keingetan nama Ferguso yang sering banget dibawa-bawa

Pengalaman saya yang pernah ngirim ke Basabasi dan nggak pernah ada jawaban sampai berbulan-bulan lamanya----artinya karya saya biasa aja dan nggak layak terbit, wkwk... Untuk bisa lolos dari redaksi Basabasi memang cukup sulit. 

Setelah saya baca karya-karya yang ada di Basabasi, memang biasanya tema tema berat yang banyak diangkat di situs ini. Tema yanng berat ini maksudnya kayak Filsafat, gitu, lho. Mungkin untuk kamu yang demen mikir-mikir  agak berat gitu, bisa banget lho coba ngirimin karyanya ke www.basabasi.co.

Jadi, sudah memutuskan mau menulis di platform mana? Yuk, mari kita jaga jiwa ini agar selalu sehat dengan cara menulis. Yeaaah!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In tips

Ingin Menulis Novel? 5 Langkah Simpel dari Scott Sigler untuk Para Pemula


Ada yang punya keinginan sama seperti saya? Yap, di tahun 2019 rasanya pengen banget mewujudkan salah satu resolusi yang dari tahun-tahun sebelumnya belum juga saya realisasikan, yaitu punya draf novel. Betapa saya kesulitan juga untuk melakukan proses menulis novel ini, padahal tiap hari kerjaan saya juga nulis. Tapi nulis artikel, bukan fiksi.

Akhirnya, beberapa bulan (sejak akhir tahun 2018) saya membulatkan tekad untuk belajar dari para ahli tentang menulis novel ini. Salah satunya dari Scott Sigler atau nama lengkapnya Scott Carl Sigler. Dia salah satu penulis novel dari Amerika dengan genre science fiction dan horror. Enam belas novel karyanya jadi best seller di New York Times dan karyanya berupa novela serta cerpen udah nggak kehitung lagi banyaknya.

Infected salah satu novel best seller Scott Sigler (sumber: scottsigler.com)

Lalu, Kenapa Harus Scott Sigler?


Scott Sigler (sumber: enacademic.com)
Iya, ya, kenapa harus Scott Sigler? Sebenarnya, saat saya memantapkan diri untuk belajar lagi gimana nulis novel, saya nemu berbagai youtube channel tentang How to Write A Novel. Nah, saya sempat ngeklik beberapa channel sampai akhirnya sampai di channelnya Scott Sigler. So, yeah... saya merasa lima langkah simpel dari Scott ini lebih ngena buat saya. 

Selain itu, setelah saya telusuri ternyata Scott Sigler ini memang bukan penulis biasa. Yap, kita bisa menemukan berbagai publikasi tentang novelnya yang best seller dan betapa Scott begitu piawai memainkan alur cerita untuk genre science fiction. Meskipun saya sendiri belum baca-baca karyanya dia, tapi dari hasil reviewer tentunya.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah Infected yang menjadi best seller dan sudah difilmkan. Kabar baiknya, langkah-langkah yang disampaikan Scott ini adalah proses yang juga dia lalui saat menulis novel Infected dan bagaimana ia memulai karir menulisnya. Okelah, daripada berlama-lama mari kita intip-intip ilmu nulis dari Scott Sigler ini. Check it out!

Pertama Kali Menulis Novel? Ikuti 5 Langkah Simpel dari Scott Sigler!


sumber: pexels.com
Perlu diingat jika menulis novel adalah pekerjaan yang berat, kalau kata Scott, writing a novel is a ton of work. Mungkin karena menulis adalah pekerjaan yang berat, hanya beberapa dari mereka yang mampu melewari proses berat itu sehingga menjadi seorang penulis best seller. Iya nggak, sih? Tapi kalau kata Scott siapa pun bisa kok menulis novel.

1. Menulislah setiap hari

sumber: pexels.com
Ini simpel banget, ya? Iya, kedengerannya memang simpel banget tapi pada praktiknya memang cukup menantang. Buat saya cukup menantang, dan saya rasa para newbie juga setuju, bukan? Scott juga bilang gitu, mungkin menulis setiap hari hal yang nggak mungkin buat kebanyakan orang tapi kita perlu untuk mencoba. 

Bikin jadwal rutin untuk menulis setiap hari sekurang-kurang satu jam dalam sehari. Jadikan satu jam untuk menulis ini sebagai salah satu kegiatan prioritas kita. Kalau kita bener-bener pengen nulis novel, maka menulis setiap hari adalah hal yang harus kita lakukan. Menulis itu kayak nge-gym untuk membentuk otot. Biar berotot kayak Deddy Corbuzier--misalnya, kita perlu latihan setiap hari.

2. Tulislah bad book kita, maka kita belajar how to finish

sumber: pexels.com
Kalau kata Scott, yang dimaksud bad book ini kita nggak perlu terpaku bagaimana menulis dengan alur cerita yang luar biasa keren atau karakter tokoh yang beda dari biasanya. Tujuan kita menulis novel pertama ini untuk teach yourself that you can finish a novel. 

Dengan memahami tujuan utama kita dalam menulis novel pertama, tentu akan memberikan kekuatan bagi kita kalau kita bisa menyelesaikan sebuah novel. Mungkin banyak dari kita mulai nulis novel dari bikin outline yang keren dan intens menulis sampai menemukan kendala kemudian berakhir dengan berhenti di tengah jalan tanpa menyelesaikan tulisan kita.

Jadi, mindset kita kali ini adalah bagaimana pun plot ceritanya, mau ngawur kek, mau nggak nyambung kek. Pokoknya terus aja nulis sampai kita berhasil menyelesaikan novel pertama kita karena tujuan kita adalah menyelesaikan sebuah novel bukan bikin novel best seller. Kata Scott, finishing gives you power.

3. Selesaikan bad book kita, kemudian singkirkan sampai enam bulan


sumber: pexels.com
Inget kan katanya Scott gimana? Finishing gives you power! Bahkan Scott bilang kalau sebenernya kita nggak butuh tutor atau kelas menulis untuk bisa menulis novel. Berhasil menyelesaikan sebuah novel dapat memberikan energi dan kekuatan untuk kita terus menulis sekali pun di tengah perjalanan kita menemukan penyakit writer's block. 

Setelah si bad book kita selesai, jangan coba-coba lihat dan baca tulisan kita kurang lebih selama 6 bulan. Bahkan katanya Scott, don't let anyone to read it. Beneran simpen aja gitu file novel pertama kita, tanpa dibaca bahkan dikirimkan ke penerbit. 

4. Mulailah menulis good book


sumber: pexels.com
Saat si bad book dalam inkubator, inilah saat yang tepat bagi kita untuk menulis novel kedua alias the real book! Apa hal mengejutkan yang kita temukan? Kita akan menjalani proses menulis dengan lebih mudah! Itu yang dibilang Scott.

Alasannya, karena kita sudah punya pengalaman dalam menulis novel mulai dari merangkai kalimat, sampai membuat alur cerita. Semua akan terasa lebih mudah saat kita telah melewati proses pertama. Yap, mungkin tanpa disadari, kemampuan menulisa kita saat ini sudah meningkat.

Jika saat proses menulis kita menemukan kesulitan, kita merasa frustrasi, dan kita merasa nggak akan bisa menyelesaikan karya spektakuler kita, kita cuma harus melanjutkan untuk menulis. You already know you can finish a novel. Lagi, menyelesaikan bad book itu memberikan kita kekuatan dan kepercayaan bagi kita untuk menyelesaikan novel selanjutnya.

5. Setelah enam bulan, keluarkan bad book kita kemudian baca, koreksi, pelajari kelemahan dan atasi kelemahan dari tulisan kita

sumber: pexels.com
Enam bulan akan memberikan kita waktu untuk melupakan apa yang sudah kita tulis, dan itu membuat kita lebih objektif dalam menilai tulisan kita. Mungkin kita bakalan shock dengan apa yang kita temukan dalam tulisan kita. Seriusan kita yang nulis cerita ini? Kok, karakter ceritanya begini amet? Dialog apaan nih?

Nah, justru inilah fungsinya kenapa mesti diendapkan selama enam bulan. Kita bisa belajar di mana kesalahan atau kelemahan-kelemahan kita saat menulis. Kita memang nggak akan langsung seperti penulis best seller lainnya, tapi dari sini kita banyak belajar kalau menulis itu sebuah kemampuan yang terus diasah. Maka, kita akan siap menulis untuk pembaca bukan menulis untuk mendengarkan diri kita.

Sumber: How to Write Your First Novel (So, You Wanna Be A Writer #1)


Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments